Pages

Beladiri Terbaik

0 komentar

Sering sekali pertanyaan ini muncul, bahkan ada yang sampai repot-repot berdebat demi membuktikan beladiri apa yang terbaik. Tidak hanya debat, bahkan ada pertandingan khusus yang mempertandingkan semua ilmu beladiri dalam satu event, seperti Ultimate Fighting Championship (meskipun tidak disebutkan secara rinci nama beladirinya, tetapi kita sudah dapat menebak background beladiri si atlet). Agak susah memang membuktikan mana yang terbaik. Di UFC sendiri pun bukan jaminan bahwa pemenangnya mewakili sebagai beladiri yang terbaik.

Pada dasarnya setiap seni beladiri memiliki “atribut” keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Seperti Taekwondo yang terkenal dengan teknik tendangannya, Tinju yang memiliki kekuatan pukulan, Gulat terkenal dengan bantingannya, Jiu jitsu yang terkenal dengan teknik kuncian, Aikido terkenal memiliki sifat kelembutan yang mampu dirubah menjadi kekuatan, Wushu terkenal dengan keindahan gerakan dan kekuatan masing-masing tekniknya, dan lain sebagainya.



*Taekwondo dengan tendangannya





*Tinju dengan pukulannya






*Aikido dengan kelembutan yang dapat dirubah menjadi kekuatan






*Jiu jitsu spesialis teknik kuncian






*Wushu dengan keindahan serta kekuatan di semua tekniknya






*Gulat dengan teknik bantingan





Lalu mana yang terbaik dari yang saya sebutkan sebagian di atas? Jawabannya adalah semuanya baik. Memang jika kita cermati, terdapat kelemahan pada seni beladiri tersebut, dan justru itulah yang membuat ragam ilmu beladiri tersebut saling melengkapi satu sama lain.

Misalnya seorang Taekwondoin professional yang ingin melatih tangannya, bisa mencoba Tinju. Atau seorang Wushu professional ingin memahami teknik kuncian, bisa belajar jiu jitsu, dll. Tapi yang perlu diingat sebelum kita mempelajari seni beladiri yang lain, pertama-tama kita harus mematangkan dulu basic dasar beladiri kita terlebih dahulu (selesaikan pada tingkatan tertinggi), dengan demikian kita sudah mendapat semua (sebagian besar) ilmu, baru kita bisa belajar yang lain. Jika kita masih belum bisa menguasai sepenuhnya basic dasar beladiri kita sendiri lalu nekat mempelajari seni beladiri yang lain, yang ada adalah hasilnya semrawut, teknik kita kacau, karena tercampur-campur tanpa fokus yang jelas. Ingat kita tidak bisa duduk di dua kursi sekaligus.

Sebagai contoh yang patut ditiru tentang “migrasi” antar martial art ini adalah Kris Jon, sebelum belajar tinju, Kris Jon adalah atlet Wushu Sea Games (kalau tidak salah) yang tentu saja sudah mendapat sebagian besar ilmu dari Wushu. Migrasi nya ke Tinju menghasilkan prestasi yang hebat. Tapi bukan berarti kita harus pindah-pindah aliran lho, itu tergantung talenta, dan bakat kita masing-masing.

Kembali ke topik, jadi menurut saya semua seni beladiri adalah baik, dan tidak ada gunanya meributkan beladiri apa yang terbaik, karena pada akhirnya seni beladiri akan saling melengkapi. Sama halnya kita bertanya bagus mana antara ayah dan ibu? Bingung kan…Karena kedua-duanya sama-sama baik, memiliki keunggulan kelemahan masing-masing, dan akan saling melengkapi satu sama lain.

http://hannythinkabout.blogspot.com
Readmore...

Pertarungan Nyata

0 komentar



Bagi saya semua style beladiri sama bagusnya, tetapi yang berbeda adalah faktor pelaku, style MA itu hanya dasar2 secara keilmuan yang menuntun dalam kita belajar secara terarah, cuma memang ada penekanan2 tentunya, ada yang menekankan pada beladirinya, ada yang pada olahraga, kesehatan dll.

Basic saya Kuntao, Pencak Silat dan Eskrima, begitu ketemu Silat aliran lain, ketemu temen2 Aikido, temen2 Karate, Krav Maga, beladiri China dll, begitu banyak kesamaan teknik, mungkin bedanyah hanya pada detail2nya, toh manusia diciptakan tidak ada yang punya lebih dari 2 tangan, 2 kaki dan satu kepala....

Bagaimanapun apapun labelnyah, mau olahraga, kesehatan, atau beladiri murni, toh tetep melatih untuk memanfaatkan kelebihan kita sebagai manusia...

Yang suka diributkan pada beladiri adalah bisa ga untuk "real fight"?? Kesempatan untuk real fight itu berapa banyak sih? Apa kita belajar beladiri hanya untuk cari kemenangan? Kalau anda adalah orang jalanan/preman mungkin tiap hari harus was2 karena bakal ketemu Real Fight!! Orang2 yang berhubungan dg Army, Kepolisian, Satuan Pengamanan dll. ajah ga tiap hari perang.

Real fight adalah tanpa aturan, dan justru tanpa aturan itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin, dan ini udah ga ada hubungannya dg style ilmu beladiri, apapun style beladirinya, kalau kita tau menggunakan cara kotor dan curang, kemudian mau melatihnyah disamping pelatihan yang inti, tentunya bisa kan? Atau kalau ada style yang klaim selalu menggunakan cara2 kotor, lha apa itu juga dilatih tiap hari yang kotor2 tersebut? Untuk beladiri sport, tinggal manusia yang menggunakannya mau tidak memakai cara kotor? kalau mau ya tentunya sudah menjadi tanpa rules.

Dan seandainya mau dikembalikan lagi pada difinisi Martial Arts sebagai ilmu perang, mana ada perang tanpa senjata?? ya silahkan dg pelatihan beladiri bersenjata: bisa pedang, pisau, stickfighting dll atau dalam keadaan terdesak bisa memanfaatkan semua yang ada disekitar kita sebagai senjata.

Sebaliknya begitu banyak juga style MA yang diklaim bisa buat real fight, tapi sekali lagi apakah langsung bisa dibuat real fight? masih banyak faktor kan? terpenting semua kembali bergantung pada manusia yang menjalankannya, mau dibawa kemana arts tersebut. (hartcone)
Readmore...

Beladiri

0 komentar



Bela diri bukanlah seni yang berindah-indah. Bela diri adalah segala cara yang bisa digunakan untuk menjamin keselamatan pribadi dan orang lain (tidak termasuk keselamatan lawan). Mungkin terdengar kasar dan kejam, tapi dunia ini memang kejam, kawan!


Semua ada tahapannya. Belajar bela diri tidak mungkin tanpa tahapan. Kita tidak mungkin langsung berlatih ke tahap advance tanpa melalui tahap-tahap basic terlebih dahulu. Ini juga merupakan sunnatullaah. Tidak ada manusia yang langsung bisa. Kalau berhasil, maka kita tidak perlu bangga, karena masih ada tahapan lain yang lebih tinggi dan lebih susah. Kalau gagal, kita pun tidak perlu kecewa, karena semuanya pernah gagal. Bruce Lee dan Masutatsu Oyama juga pasti pernah gagal. Kesadaran akan 'tahapan' ini memberikan banyak konsekuensi dan memberikan banyak pelajaran bagi kita.

Jam terbang adalah segalanya. Percayalah, meskipun sama-sama latihan memukul, orang yang baru belajar sehari jelas beda dengan orang yang sudah berlatih setahun. Dalam bela diri, tidak ada jalan pintas atau calo. Kalau mau lebih hebat, ya berlatihlah lebih giat! Tidak ada tempat untuk orang manja yang mau enaknya saja. Dengan repetisi ratusan atau ribuan kali, jurus yang sulit pun akan terkuasai. Cepat atau lambatnya itu urusan belakangan (lebih tepatnya lagi : itu urusan Allah). Yang penting ikhtiar saja dulu habis-habisan. Inilah cara berpikir yang harus digunakan oleh setiap Muslim, apalagi mereka yang membaktikan dirinya dalam dakwah.

Selalu ada pilihan. Dalam hidup, manusia selalu punya pilihan. Udara dingin tidak mesti menjadikan kita kedinginan. Keadaan sulit tidak harus membuat kita putus asa. Semuanya adalah pilihan yang dapat kita ambil. Bahkan tidak memilih pun merupakan sebuah pilihan. Anda dapat berlatih malas-malasan dan seperlunya, namun akhirnya kemampuan Anda akan tumpul dengan sendirinya. Atau, Anda dapat berlatih dengan giat, dengan imbalan mendapatkan peningkatan kemampuan yang signifikan.

The choice is all yours !

Tidak ada jalan selain sabar. Sabar adalah suatu fungsi kekuatan. Sabar sama sekali tidak identik dengan kelemahan dan ketidakberdayaan. Orang yang mampu sabar adalah orang yang ditakdirkan untuk jadi kuat. Mereka yang ingin jadi ahli bela diri harus berlatih dan berlatih, tidak kenal hari libur dan tidak peduli musim. Kalau mau lebih hebat lagi, mau tidak mau ya harus lebih sabar lagi. Ini adalah sunnatullaah yang sangat penting untuk disadari dan berlaku umum dalam segala persoalan.

Jadi, marilah kita belajar bela diri! Bela diri yang mana, nih? Saya rasa kriteria 'apa adanya' bisa membantu Anda untuk memilih bela diri yang sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Readmore...